Operasional
Kapan waktu paling tepat untuk restock?
Ada dua cara kehilangan uang dalam berjualan: barang habis saat ada pembeli, atau barang menumpuk sampai uang tidak bisa diputar. Keduanya berakar pada satu hal — keputusan restock yang tidak punya patokan.
Mulai dari satu angka: pemakaian harian
Sebelum menentukan jadwal, ukur berapa unit yang benar-benar keluar per hari (atau per minggu) untuk tiap produk. Cukup catat penjualan 2–4 minggu; polanya biasanya sudah terlihat.
Dari angka itu, hitung dua batas:
- Batas pesan ulang = pemakaian harian × lama pengiriman supplier (dalam hari).
- Stok aman = tambahan kecil untuk menutup lonjakan atau keterlambatan.
Contoh: produk terjual 6 unit/hari, supplier butuh 3 hari mengirim, ditambah 1 hari cadangan. Maka pesanan ulang dilakukan ketika stok tersisa sekitar 24 unit.
Tiga pola yang lazim dipakai
1. Pola mingguan (untuk produk cepat habis)
Cocok untuk FMCG dan barang yang perputarannya tinggi. Pesanan tetap setiap minggu membuat stok lebih mudah diprediksi, dan Anda tidak perlu menyimpan banyak.
2. Pola bulanan (untuk kebutuhan tetap)
Cocok untuk kebutuhan kantor dan barang yang pemakaiannya stabil. Keuntungannya: satu kali pesan, satu kali biaya kirim, dan penagihan lebih rapi.
3. Pola campuran (paling realistis untuk toko kecil)
Produk cepat habis dipesan mingguan; sisanya bulanan. Pada pola ini, yang penting adalah disiplin mencatat sisa stok di akhir pekan — bukan menunggu rak kosong.
Dua kesalahan yang paling sering terjadi
- Restock berdasarkan perasaan. “Kayaknya perlu tambah” tanpa angka membuat jumlah pesanan berubah-ubah, dan modal ikut tidak stabil.
- Naik tier hanya karena diskon. Harga per unit memang turun, tetapi kalau barangnya baru habis enam bulan, uang Anda bekerja sebagai stok, bukan sebagai penjualan.